18 Desember 2018 | Dilihat: 142 Kali
CUKAI ROKOK TEMBUS TARGET APBN
noeh21
 

HiTvBerita.com – JAKARTA | Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan mengumumkan jika penerimaan bea cukai hingga 14 Desember 2018 sudah menyentuh Rp 175,9 triliun. Realisasi penerimaan tersebut sudah 90,63 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang sebesar Rp 194,10 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari Cukai rokok yang sampai menembus Rp 126,2 triliun.

Direktur Jenderal Bea Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengatakan realisasi penerimaan tersebut berasal dari beberapa pos. Pertama, pos bea masuk yang penerimaannya tercatat sudah mencapai Rp37,19 triliun atau lebih besar 4,18 persen ketimbang targetnya yang hanya Rp35,7 triliun.

Kedua, pos bea keluar yang sudah mencapai Rp6,43 triliun atau lebih besar 114,17 persen dari targetnya Rp3 triliun. Sementara itu, untuk penerimaan cukai sampai saat ini masih belum memenuhi hasil yang diharapkan.

Dari target sebesar Rp155,4 triliun, Bea Cukai baru berhasil mengumpulkan Rp132,29 triliun atau 85,13 persen dari target. Jika dilihat secara detail, seluruh komponen penerimaan cukai memang belum mencapai targetnya.

Untuk cukai hasil tembakau, realisasi penerimaan sudah mencapai Rp 126,2 triliun atau 85,14 persen dari targetnya yang sebesar Rp 148,23 triliun. Kemudian, untuk cukai etil alkohol tercatat Rp 130 miliar atau 78,8 persen dari targetnya Rp 170 miliar.

Begitu pun dengan cukai dari minuman mengandung metil alkohol yang baru terisi Rp 5,86 triliun atau 78,8 persen dari targetnya Rp 6,5 triliun. Meski demikian, Heru tetap yakin penerimaan pajak hingga akhir tahun bisa mencapai target.
 

"Perkiraan kami bisa memenuhi target yang ditetapkan, mungkin lebih sedikit. Kami harapkan bisa di atas sedikit dari 100 persen target APBN," kata Heru ditemui di kantornya, Senin (17/12).

Untuk tahun depan, rencananya pemerintah menargetkan penerimaan bea cukai sebesar Rp 208,8 triliun atau lebih besar 7,57 persen dibanding target tahun ini. Ia optimistis target itu bisa dicapai meski pemerintah tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau, yang selama ini merupakan kontributor terbesar dari penerimaan cukai.

Rencana untuk menaikkan cukai hasil tembakau ini termuat di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156 Tahun 2018 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau yang diterbitkan 12 Desember kemarin. Sehingga, pengenaan cukai terendah tetap diemban oleh produk tembakau iris dengan besaran cukai sebesar Rp 10 per batang untuk harga jual per eceran Rp 55 per batang dan tarif cukai tertinggi diemban oleh produk cerutu dengan besaran Rp 110 ribu untuk harga jual minimal Rp 198 ribu per batang.

Memang, potensi penerimaan akan bertambah dari minuman mengandung metil alkohol, di mana tarif cukainya akan dinaikkan tahun depan. Hanya saja menurutnya, perubahan tarif tentu tak bisa diandalkan dalam mengerek penerimaan.

Rencananya, kenaikan penerimaan bea cukai akan dilakukan melalui penegakan (enforcement).
"Kami sudah melakukan operasi gabungan antara Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan Bea Cukai, akibatnya yang tadi pasarnya diisi oleh rokok atau minuman ilegal, akhirnya bisa diisi oleh yang legal. Jadi nanti keberhasilan enforcement oleh unit pengawasan, tujuannya adalah membuat yang legal mendapatkan ruang," pungkas dia.

IDHAM

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077