18 Desember 2018 | Dilihat: 162 Kali
NERACA DAGANG KEOK, TRANSAKSI BERJALAN SESUAI TARGET
noeh21
 

HiTvBerita.com – JAKARTA | Bank Indonesia (BI) masih optimis defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) akan sesuai target, yakni di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2018 dan 2,5 persen dari PDB pada 2019. Padahal, neraca perdagangan tercatat defisit pada November 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan defisit neraca perdagangan November 2018 sebesar US$ 2,05 miliar. Angka defisit ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 1,82 miliar. Sementara secara tahun berjalan, defisit transaksi berjalan mencapai US$ 7,52 miliar pada Januari-November 2018.

Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan bank sentral nasional masih optimis defisit transaksi berjalan sesuai target karena berbagai kebijakan penurunan defisit sudah dilakukan oleh pemerintah.

"Pemerintah sudah mendorong ekspor dan pariwisata, tinggal sekarang bagaimana sinergi antara pusat, daerah, dan masyarakat, termasuk kalangan bisnis supaya kegiatan ekspor bisa terus meningkat," ujarnya di Museum BI, Senin (17/12/2018).

Saat ini, kebijakan dalam rangka peningkatan ekspor teranyar dilakukan pemerintah, yaitu menyepakati Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA).

"Harapannya ini bisa mendorong ekspor, meski ada juga perjanjian terkait impor. Tapi setidaknya bisa mendorong kegiatan investasi dan ekspor," katanya.

Selain itu, defisit transaksi berjalan bisa lebih baik lantaran kondisi ekonomi tahun depan diperkirakan tidak seberat tahun ini. Meski, normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve, diperkirakan tetap berjalan tahun depan.
"Kemungkinan suku bunga acuan AS tidak naik agresif pada tahun 2019," imbuh Mirza.

Kendati begitu, ia menilai neraca perdagangan Indonesia yang kembali defisit memang perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah ke depan. "Artinya, insentif untuk ekspor perlu diberikan, terus dorong pariwisata, dan ekpsor," tandasnya.

Sementara per kuartal III 2018, defisit transaksi berjalan berada di kisaran 3,37 persen dari PDB. Defisit transaksi berjalan terus membengkak sejak kuartal I sebesar 2,2 persen dari PDB dan kuartal II 3 persen dari PDB.
 

Ditempat berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit sebesar US$2,05 miliar yang membebani neraca perdagangan November kemarin disebabkan oleh kinerja ekspor yang memble. Menurut dia, banyak tantangan eksternal yang dihadapi Indonesia untuk menggenjot kinerja ekspor dan mengatasi defisit neraca perdagangan.

Tantangan eksternal paling utama datang dari China, lanjut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi China diprediksi kian melambat hingga akhir tahun, sehingga ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu pun tak bisa optimal.

Begitu juga dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menjelaskan bahwa tidak ingin bengkaknya impor minyak dan gas bumi (migas) selalu dijadikan kambing hitam penyebab defisit neraca perdagangan. Pasalnya, ia menilai defisit neraca perdagangan terjadi karena ekspor produk non migas yang belum optimal.

Jonan mengungkapkan membengkaknya impor migas Oktober terjadi karena harga minyak yang menanjak. Secara volume, impor migas Oktober lalu turun 4,47 persen menjadi 4,3 juta ton.

"Kalau harga minyak mentah naik itu harga produk Bahan Bakar Minyak (BBM) juga naik. Kita impor kira-kira mungkin sekitar 500 ribu sampai 600 ribu barel per hari, baik crude maupun produk. Ya pasti nilainya naik," pungkasnya.

OTHONE

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077