02 Mei 2019 | Dilihat: 345 Kali
Terulang Aksi Kriminalisasi Terhadap Pers
KAPOLRI HARUS TEGAS TINDAK OKNUM PELAKU PENGANIAYAAN DUA ORANG WARTAWAN DI BANDUNG!
noeh21
Seknas FPII, Wesly Sihombing
 

HiTvBerita.com- BANDUNG| Buntut aksi kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat dari institusi kepolisian, terhadap dua orang pekerja pers saat meliput kegiatan Hari Buruh  (May Day) di depan Gedung Sate, Bandung Jawa Barat, (1/5/2019), pada Rabu pagi kemarin. Telah menimbulkan reaksi keras yang datang dari berbagai organisasi pers.

Sikap dan prilaku yang ditunjukan oleh oknum polisi tersebut, dinilai sebagai tindakan yang brutal dan harus dikenakan sanksi keras bagi para pelakunya. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Nasional (Seknas) Forum Pers Independent Indonesia (FPII), Wesly H Sihombing, ia mengecam keras tindakan oknum aparat tersebut seraya meminta kepada elit pimpinan tertinggi dari institusi kepolisian segera menindak tegas oknum polisi penganiaya tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku.

Wesly juga meminta kepada organisasi pers maupun perusahaan media yang menaungi wartawan korban penganiayaan itu, agar segera menempuh jalur hukum serta harus berani menolak berbagai upaya perdamaian, sebagai kemungkinan adanya “ajakan kompromi” yang akan ditawarkan nantinya oleh pihak pelaku, agar kasus penganiayaan terhadap warawan tersebut tidak berlanjut.

Terkait kasus ini, Sihombing menginstruksikan kepada Pengurus FPII Provinsi Jawa Barat, untuk terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas, agar nantinya diperoleh keadilan sesuai dengan yang dialami korban. Menurut Wesly, kekerasan terhadap wartawan dan upaya menghalangi tugas wartawan sering kali hanya berujung permohonan maaf dan atau dikenakan pidana umum bukan sanksi pidana berdasarkan UU Pers

***

TERKAIT kasus diatas, kecaman senada disampaikan Ketua Umum DPP Serikat Pers Republik Indonesia, Heintje G Mandagie. Ia mendesak agar Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnavian segera menindak tegas anak buahnya yang telah melakukan tindak kekerasan dan menghalang-halangi pekerjaan wartawan saat melaksanakan tugas. Menurut Mandagi, aparat kepolisian semestinya mampu melindungi wartawan saat melakukan peliputan dan bukannya malah dianiaya.

"Kami menantang Kapolri menerapkan sanksi pidana dan denda sebesar 500 juta rupiah sesuai UU Pers terhadap oknum anggota polisi yang menganiaya dan menghalangi tugas wartawan saat tengah meliput peringatan hari buruh di Bandung," tandas Mandagi kepada HiTv.
 

 

Ketua Umum DPP Serikat Pers Republik Indonesia, Heintje G Mandagie.   

“Sebab, dalam pasal 18 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers secara tegas menyebutkan, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000. Atas dasar itu Kapolri harus mampu membuktikan pihaknya tegas dan tidak berusaha melindungi anak buahnya,” sambungnya.

***

BEREDARNYA berita aksi kekerasan yang menimpa terhadap dua orang wartawan yang tengah meliput peringatan Hari Buruh Internasional, yang berpusat di lokasi Gedung Sate Bandung tersebut, telah dialami oleh Prima Mulia yang bekerja sebagai fotografer pada perusahaan media Tempo. Dan, Iqbal Kusuma Direza yang bekerja sebagai wartawan freelance pada sebuah perusahaan media online.

Tentu saja, kejadian itu telah melahirkan keprihatinan mendalam dan sekaligus memunculkan empati dari berbagai kalangan insan pers, atas musibah yang dialami oleh dua pekerja kuli tinta yang tengah melaksanakan tugas jurnalisnya itu, jangan sampai terulang kembali peristiwa seperti ini pada masa-masa yang akan datang.     

Berikut adalah kronologis kejadian penganiayaan itu, diawali sekitar pukul 11.30, Reza dan Prima berkeliling diseputaran Jl. Dipati Ukur, untuk memantau kondisi pergerakan massa buruh yang akan berkumpul pada titik pusat, yakni di Gedung Sate.

Saat tiba di Jalan Singa Perbangsa, atau seputaran Jalan Dipatiukur. Pada saat itu Prima dan Reza  melihat ada insiden keributan yang terjadi antara polisi dengan massa pendemo.

Melihat kejadian itu, keduanya langsung membidikan kamera yang digenggamnya untuk mengabadikan peristiwa tersebut. Ketika pindah lokasi lain untuk mengambil gambar yang berbeda, namun rencana itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba muncul seorang anggota polisi yang dengan sigap turun dari sepeda motor jenis KLX berplat Nomor Polisi D 5001 TBS, dan langsung menyergap Reza.  

Menurut Reza, tanpa ada opening dulu oknum polisi tersebut, langsung menyergap dan memiting badannya, bak laksana menangkap seorang pelaku teroris berbahaya.

Oknum polisi itu lalu merampas camera yang dipegang Reza dan menghapus seluruh file penting yang ada pada perangkat tersebut, sembari menendang lutut dan tulang kering kaki kanan Reza berkali-kali hingga menimbulkan memar.

Sedangkan Prima Mulia mengaku dirinya hanya diperlakukan disekap oleh tiga orang polisi dan akhirnya juga dilepaskan, setelah sebelumnya seluruh file yang ada di camera miliknya, dihapus oleh oknum polisi itu terlebih dahulu.

“Saya tidak dianiaya secara phisik tapi oknum polisi itu mengancam akan menghabisi saya jika melakukan hal yang macam-macam,” jelas Prima.

Atas musibah yang menimpa dua pekerja pers itu, Organisasi Pers dan Perusahaan Media tempat bekerja kedua awak media tersebut tengah menjajagi kemungkinan kasus ini akan dibawa ke ranah hukum.

(Cardi/ferry/Yog)

Terkait

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077