28 Desember 2018 | Dilihat: 165 Kali
KEPALA BMKG AKUI GAGAL MEYAKINKAN POTENSI ANCAMAN TSUNAMI
noeh21
 

HiTvBerita.com - JAKARTA | Awal November 2017 lalu, Prof Dwikorita Karnawati resmi menjadi Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sudah langsung mengaudit berbagai peralatan pendukung yang dimiliki lembaga tersebut. Selain jumlahnya sangat kurang, sebagian teknologinya sudah tertinggal sehingga perlu ditambah dan diperbarui dengan perlatan yang lebih canggih.

"Sebenarnya sejak 2001, sudah dipetakan potensi ancaman tsunami di tanah air. Namun dengan keterbatasan anggaran negara, pengadaan berbagai peralatan deteksi dini itu harus melalui prosedur pengkajian dan pembahasan yang panjang," kata Dwikorita.

Bulan Januari 2018 lalu, BMKG telah mengajukan anggaran untuk membeli berbagai peralatan sesuai skala prioritas. Sebulan kemudian, Presiden Joko Widodo menyetujui proposal tersebut. Pembahasan-pembahasan teknis di Bappenas sudah selesai, selanjutnya pengkajian masih berlangsung di Kementerian Keuangan.

"Saya akui, BMKG gagal meyakinkan bahwa potensi ancaman tsunami dan bencana lain itu nyata sehingga keberadaan berbagai peralatan untuk deteksi dini itu amat mendesak," ucap Dwikorita.

Doktor geologi bencana dari Leeds University, Inggris itu berharap bencana tsunami di Palu dan pesisir Selat Sunda menyadarkan semua pihak, bahwa pengadaan alat deteksi itu tak bisa ditawar lagi. Bila Jepang memiliki seribuan alat canggih pendeteksi gempa dan tsunami, Indonesia yang memiliki hampir empat juga kilometer garis pantai idealnya punya dua kali lipatnya.
 

"Saya kalau melihat korban kemarin itu, duh ... Kenapa kok kemarin kami tidak bisa meyakinkan itu harus dipasang segera," ujar Dwikorita yang sebelumnya Rektor UGM.

Disadari dalam sistem birokrasi yang ada, semua pengadaan barang harus melalui kajian dan pembahasan, apalagi nilai peralatan canggih yang diperlukan juga sangat mahal. Dirinya juga tak mau gara-gara ada prosedur yang terlewat, kemudian harus berurusan dengan aparat hukum. Hanya saja, tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu malam lalu memberikan pelajaran amat berharga.

"Ternyata bencana itu tak kenal prosedur, tidak mengenal administrasi. Yang dibutuhkan adalah kecepatan dan ketepatan," ujar Dwikorita menegaskan.

Selain berbicara soal minimnya peralatan deteksi, Dwikorita juga menjelaskan beda berbagai tsunami yang pernah menimpa Indonesia sebelumnya dan tsunami di Selat Sunda kemarin. Seberapa besar potensi tsunami lanjutan dari anak Krakatau? Wilayah mana di Indonesia yang bebas dari ancaman potensi tsunami?

Semua kembali kepada political will dari Pemerintah untuk mencari solusi yang terbaik untuk mencegah dampak dari tsunami yang lebih besar. Pemerintah harus bertanggungjawab mulai dari peringatan dini, penanganan maupun menanggulangan dampak dari tsunami maupun gempa yang terjadi diseluruh wilayah Indonesia.

OTHONE

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077