31 Desember 2018 | Dilihat: 252 Kali
TANGGAPI TANTANGAN ANDI ARIEF KE JOKOWI SOAL DONOR MATA
noeh21
 

HiTvBerita.com - JAKARTA | Penyidik KPK Novel Baswedan menanggapi pernyataan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief yang menantang Presiden Joko Widodo memberikan satu matanya ke dirinya yang jadi korban penyiraman air keras. Menurut Novel, seharusnya Jokowi mau mengungkap pelaku yang menyerangnya.

"Bagi saya, sederhana saja, Jokowi ungkap penyerang saya dan penyerang orang-orang di KPK yang menculik, menteror dan lain sebagainya, itu realistis," ujar Novel Baswedan kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

Sebelumnya, Andi Arief mengkritik Jokowi yang justru gagal menuntaskan kasus HAM yang melibatkan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Padahal, menurut Andi, kasus yang menimpa Novel ini termasuk kategori mudah diselesaikan.


"Kalau masih ada yang yang berkoar soal penculikan atau pebunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan. Tanyakan pada sebelah matanya, Jokowi ngapain aja?" kicaunya lewat akun Twitter @AndiArief, Minggu (30/12/2018).

Menurut Andi, pembahasan soal penculikan dan pembunuhan masa lalu akan relevan jika Jokowi mau memberi sebelah matanya pada Novel Baswedan. Menurut Andi, percuma Jokowi punya mata tapi tak mampu menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

"Kenapa mata Pak Jokowi? Karena percuma punya mata tapi tau mau melihat persoalan yang mudah ini untuk diselesaikan," tambahnya.

Andi menyebut Jokowi seharusnya memberikan satu matanya kepada Novel. Menurut Andi, itu juga sekaligus bentuk sindiran karena Jokowi dianggap tidak bisa melihat persoalan ini dengan seksama. 

Kembali ke Novel, penyidik senior KPK ini berharap Jokowi memiliki kemauan untuk ungkap pelaku. Dia juga memanjatkan doa khusus untuk Jokowi berkaitan dengan hal ini.

"Dan jelas harusnya Jokowi mau (ungkap pelaku), kita doakan beliau berani," imbuh dia.


Sementara itu, menanggapi pernyataan Andi ini, Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto menyatakan penerapan hukum harus sesuai ketentuan, tak bisa dilakukan sembarangan.

"Ini adalah doktrin hukum pidana, jadi tidak bisa orang yang tidak melakukan diminta bertanggung jawab atas perbuatan pidana yang tidak dilakukan. Siapa yang berbuat dialah yang harus bertanggung jawab. Jadi tidak bisa sembarangan dalam penerapan hukum pidana," kata Arief kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

Arief mengatakan, Polri sampai saat ini masih bekerja untuk mengungkap perkara ini. Cepat lambatnya pengungkapan perkara, lanjut Arief, sangat tergantung pada modus operandi, kecukupan alat bukti, barang bukti, petunjuk di TKP dan saksi-saksi yang menentukan tingkat kesulitan pengungkapan.

"Dalam kejadian penyerangan yang 'hit & run' memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Sampai saat ini penyidik masih tetap bekerja untuk mengumpulkan bukti dan informasi. Pengungkapan perkara ini menjadi tanggung jawab penyidik selaku penegak hukum yang memang ditugaskan oleh negara dalam ranah penegakan hukum," ujar Arief.

"Begitu juga dengan pertanggungjawaban hukum atas setiap tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang adalah menjadi tanggung jawab subjek hukum yang melakukan," sambung mantan asiten Kapolri bidang SDM ini.

Arief menambahkan bagi siapa saja yang memiliki informasi berkaitan dengan peristiwa penyerangan Novel Baswedan, maka penyidik akan terbuka untuk menerima informasi itu.

"Kalau ada yang memiliki informasi berkaitan dengan upaya pengungkapan perkara itu, dipersilahkan untuk menghubungi penyidik sehingga bisa membantu mempercepat pengungkapan," pungkas Arief.

OTHONE

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077