02 Juli 2019 | Dilihat: 2220 Kali
KEPALA SEKOLAH SMAN 1 MARIKIT KANGKANGI DINAS PENDIDIKAN
noeh21
Dwi Wartini Kepala Sekolah SMAN 1 Marikit Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. (dok.f0t0/nahor_jpeg)
 

HiTvBerita.com - KATINGAN  | Untuk mencapai tujuan sekolah yang standar, Kepala Sekolah mempuyai tugas pokok yang sering disingkat dengan istilah EMASLIM (Edukator, Manajer, Administrator, Supervisior, Leader, Inovator, Motivator).

Jika Emaslim sebagai tugas pokok tidak dijalankan dengan baik, bagaimana mungkin seseorang dijadikan atau diangkat menjadi Kepala Sekolah. Apalagi semua peraturan yang telah ditetapkan Dinas Pendidikan baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota tidak dipatuhi, apa itu namanya bukan pembangkangan.

Kelakuan ini diperlihatkan Dwi Wartini Kepala Sekolah SMAN 1 Marikit Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah, banyak langkah-langkah ataupun kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan peraturan baik peraturan sekolah maupun peraturan Dinas Pendidikan sendiri.

Banyak tindakan Dwi Wartini tidak sesuai dengan peraturan sekolah, misalnya ada Guru yang tidak aktif melaksanakan tugas selama satu bulan bahkan lebih, tidak mendapatkan peringatan apapun bahkan terkesan dibiarkan.

Begitu juga mengenai Dana BOS dan Dana yang dipungut kepada orangtua siswa/siswi setiap tahun tidak jelas peruntukkannya dan tidak transparan. Perbuatan ini tentu saja sangat merugikan bagi peserta didik maupun orangtua.

Satu lagi perbuatan yang sangat fatal, dimana tidak dimasukkan nilai Pendidikan Agama Kristen dalam rapor bagi siswa penganut agama Kristen, dengan alasan yang tidak jelas. Malah menuding seorang guru yang mengajar pendidikan Agama Kristen yang bernama Osarao Nazara telah lalai memasukan nilai pendidikan Agama Kristen dalam rapor.

Hal ini terkuak, saat Dwi Warini mengundang para Orangtua/Wali siswa disekolah dengan tujuan bahwa untuk menyampaikan berita yang ditayangkan HiTvBerita tanggal 20 Juni 2019 dan sekaligus menyampaikan bahwa nilai pendidikan agama kristen tidak masuk dalam rapor, Jum’at (28/06/2019).
 

Pada pertemuan tersebut, Dwi Warini meminta penjelasan kepada Osarao Nazara untuk disampaikan kepada orantua siswa mengenai kebenaran berita tersebut. Namun tiba-tiba orangtua siswa dengan nada keras keras Osarao Nazara.
“Kenapa Osarao Nazara mengorbankan anak-anak kami dengan tidak memasukan nilai penddikan Agama belum masuk,” ucapnya dengan nada tinggi.

Menanggapi perkataan orangtua siswa tersebut, Osarao Nazara mengatakan bahwa sebenarnya nilai pendidikan agama sudah dimasukan dalam komputer dan baru diijinkan komputer dipegang pada hari ini.
“Saya tidak pernah mengorbankan anak ibu justru Dwi Wartini yang telah menghalang-halangi untuk memasukan nilai agama dikomputer,” ujar Osarao Nazara.

Mendengar penjelasan Osarao Nazara, tiba-tiba Dwi Wartini menyuruh Osarao Nazara keluar ruang rapat lalu memerintahkan silahkan untuk memakai komputer. Osarao Nazara bergegas keluar ruang rapat tanpa mengetahui bagaimana hasil keputusan rapat tersebut.

Ternyata apa yang diduga sebelumnya benar-benar terjadi, pada saat pembagian rapot dan diterima oleh orangtua siswa, Sabtu (29/06/2019) ternyata nilai Pendidikan Agama Kristen dikosongkan sampai hari ini. Hal ini tentu saja membuat para orangtua siswa kecewa dan menyalahkan Osarao Nazara karena nilai Pendidikan Agama Kristen belum masuk dalam rapor. 

“Saya sudah masukan semua nilai Pendidikan Agama Kristen. Apalagi yang belum saya sampaikan kepada Kepala Sekolah semuanya sudah,” ujar Osarao Nazara.

Persoalan ini sebenarnya sudah disampaikan baik kepada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan bahkan kepada aparat penegak hukum. Namun semuanya tidak diindahkan oleh Dwi Wartini, bahkan Kepala Sekolah yang satu ini menantang Osarao Nazara.
“Laporkan kepada Presidenpun saya tidak takut dan tidak ada yang melindungi kamu,” ujar Dwi Wartini dengan nada mengancam.

Terkait dengan permasalahan ini, wartawan HiTvBerita sudah pernah berkomunikasi langsung dengan dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Slamat Winaryo. Dalam satu perbincangannya, Kepala Dinas Pendidikan sudah berjanji akan mempertemukan Kepala Sekolah dengan Osarao Nazara agar permasalahan ini tidak berlarut-larut.

Namun hingga berita ini ditayangkan kembali, belum terlaksana pertemuan tersebut. Inilah mungkin yang menyebabkan Dwi Winarti merasa besar kepala karena dianggap tidak ada menanggapi berita yang ditayangkan oleh HiTvBerita.

Ditempat terpisah, Ketua Lembaga Pemantau Pendidikan Nusantara Cardi S menanggapi persoalan ini dengan penuh prihatin. Bagaimana tidak seharusnya sebagai Kepala Sekolah harus mampu mengejawantahkan tugas pokok Kepala Sekolah yang terkandung dalam EMASLIM (Edukator, Manajer, Administrator, Supervisior, Leader, Inovator, Motivator) .

Untuk itu, Lembaga Pemantau Pendidikan Nusantara berencana untuk mendalami kasus tersebut dan akan menyurati instansi terkait seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Komnas HAM. Karena dianggap telah melanggar perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, perbuatan Dwi Wartini dianggap sudah inkonstitusional dan tidak kredibel sebagai Kepala Sekolah.

“Saya akan laporkan perbuatan ini kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Komnas HAM serta instansi terkait lainnya, karena sudah melanggar kaedah atau norma-norma hukum yang berlaku di Indonesia. Jika perlu nanti saya akan laporkan juga ke Komisi X DPR RI, agar dapat segera ditindaklanjuti,” pungkas Cardi.

NAHOR  

Terkait

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077