07 Mei 2019 | Dilihat: 311 Kali
Penghuni Apartement Mediterania Mengeluh
BAHU JALAN DI SEKITAR BUNDARAN MASJID AL-AKBAR KEMBALI DISEWAKAN KEPADA PEDAGANG KAKI LIMA ?
noeh21
Keberadaan PKL Yang Berjualan Hingga Menutupi Bahu Jalan di Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat, dan Ditenggarai Dari Hasil Penyewaan Lahan Bisa Mencapai Miliaran Rupiah. (dok/foto/cardi)
 

HiTvBerita.com JAKARTA | Dalam UU LLAJ Nomor 22 tahun 2009, mengatur ketentuan sanksi pidana sehubungan dengan kegiatan yang dengan secara sengaja telah mengakibatkan terganggunya fungsi dalam ruang manfaat jalan. Dan, konsekuensi logis atas pelanggaran tersebut, maka bagi si pelanggar itu dapat dipidanakan penjara paling lama 18 bulan, atau hukuman denda berbentuk uang, yakni sebesar Rp.1,5 miliar.

Kendatipun telah ada saksi hukuman yang bakal diterima jika ketentuan hukum tersebut dilanggar. Hal itu tidak lantas menjadikan “kengerian” bagi puluhan Pedagang Kaki Luma (PKL) yang berjualan di seputar jalan kawasan Mesjid Al-Akbar, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Nekadnya para PKL berjualan disitu, diduga karena adanya backup dari oknum ormas yang ditenggarai bekerjasama dengan oknum pemerintahan.   


Berdasarkan penelusuran HiTvBerita, informasi yang diperoleh adanya isu jual/beli lapak yang nilainya berbeda-beda, tergantung titik-titik yang dianggap strategis dengan kisaran nilai biaya sewanya perlapak mulai dari harga 3,5 jt hingga 6 jt rupiah.

Ketika berita ini dipublish, belum diketahui siapa sebenarnya yang berperan serta memberikan idzin kepada para pelaku PKL tersebut. Namun menurut salah seorang residen yang tinggal di Apartement Mediterania yang namanya minta disamarkan.
"Saya berani bertaruh jika ramainya para pelaku PKL membuka lapak jualannya yang digelar diseputaran jalan yang menuju di Masjid Al-Akbar tersebut, karena disebabkan oleh adanya backup dari oknum-oknum yang bekerja di pemerintahan maupun oknum ormas yang ditengarai paling dominan keberadaannya di wilayah tersebut," imbuh warga penghuni apartement itu.


Pantauan HiTvBerita,  aktifitas penggunaan bahu jalan tersebut nampak terlihat mulai dari depan jalan Polsek Kemayoran hingga menuju bunderan Masjid Al-Akbar. Nampak pada bagian sisi kiri kanan jalan itu, sudah mulai berdiri bangunan-bangunan berupa lapak untuk tempat berjualan, yang dilengkap dengan fasilitas box meteran listrik untuk setiap lapak yang akan disewakan, dengan nilai harga sewanya berbeda-beda, tergantung pada titik lokasi strategis yang akan disewa.

“Seperti diketahui bahwa, keberadaan ormas yang paling dominan disini (Red-sembari menyebutkan nama salah satu ormas berbasis kedaerahan) selalu lebih memahami tentang situasi, dan dimana lahan-lahan yang dianggap basah serta memiliki nilai ekonomi tinggi, apa lagi memasuki bulan Ramadhan ini,” jelas warga tersebut.

“Open on the Street PKL” diprediksikan bisa mencapai pemasukan keuntungan hingga milyaran rupiah dari pemanfaatan jalur jalan yang ditutup tersebut. Tentu saja ini bisa menjadi alat pengkondisian dari para oknum pengelola dilapangan yang ditenggarai dapat bermain dengan oknum aparat pemerintahan terkait, yang memang memiliki korelasi langsung dengaan kewenangan tersebut.

Sementara Camat Kemayoran Asep Mulyaman bersama pihak pengelola PPKK, sepertinya belum melakukan kebijakan apapun terkait adanya kegiatan PKL di wilayah itu. Padahal warga sekitar berharap agar Pemerintahan Kecamatan Kemayoran berani bertindak tegas untuk menertibkan keberadaan PKL yang berjualan dan telah menutupi hingga badan jalan.

cardi santoso

 

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077