19 Juli 2019 | Dilihat: 343 Kali
SEMINAR INTERNASIONAL TUMBANG ANOI 2019
noeh21
 

HiTvBerita.comGUNUNG MAS | Seminar Internasional dan Ekspedisi Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 1894 di Cagar Budaya Rumah Betang Damang Batu, Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, 22 – 24 Juli 2019, murni swadaya masyarakat Suku Dayak.

“Sepenuhnya inisiatif Suku Dayak, sebagaimana terjadi pada 125 tahun silam, yaitu pada 22 Mei – 24 Juli 1894 di Tumbang Anoi, berhasil menyepakati 9 point mencakup 96 pasal hukum adat, di antaranya menghentikan praktik perbudakan dan potong kepala manusia,” kata Dagut Herman Djunas, Ketua Panitia Seminar Internasional dan Ekspedisi Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 1894.

Kegiatan tersebut nantinya akan melibatkan masyarakat Suku Dayak dari Kerajaan Brunei Darussalam, Federasi Malaysia dan Republik Indonesia, sebagai tindak lanjut dari Temenggung International Conference, Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 28 – 30 Nopember 2018, dan International Dayak Justice Congress di Hotel Perkasa, Distrik Keningau, Negara Bagian Sabah, Federasi Malaysia, 14 – 16 Juni 2019.


Hasil IDJC 2019 di Keningau sepakat membentuk Dewan Hakim Adat Dayak Internasional atau International Dayak Justice Council dan di Indonesia dibentuk Majelis Hakim Adat Dayak Nasional (MHADN).

Menurut Dagut, kalaupun ada para Kepala Daerah di wilayah Indonesia dari Suku Dayak hadir secara fisik, sifatnya pribadi, sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap makna dari pertemuan damai di Tumbang Anoi pada 125 tahun silam (22 Mei – 24 Juli 1894, 22 – 24 Juli 2019).

Para Kepala Daerah dari Suku Dayak  itu memang diberikan kesempatan menyampaikan pengalamannya di dalam menyusun konsep pembangunan berkeadilan bagi Suku Dayak, dengan menempatkan hutan sebagai sumber dan simbol peradaban.

Hutan sebagai simbol dan sumber peradaban, berhasil membentuk karakter manusia Suku Dayak beradat, yaitu berdamai dan serasi dengan leluhur, berdamai dan serasi dengan alam semesta, serta berdamai dan serasi dengan sesama.

“Setelah 125 tahun kemudian, persatuan Dayak mau dibawa kemana, sehingga perlu seiring dan sejalan untuk mencapai tujuan, agar terwujudnya pembangunan berkeadilan bagi masyarakat Suku Dayak. Suku Dayak harus berani mempertahankan hak hidupnya sebagai penduduk asli yang dilindungi dunia internasional,” kata Dagut Herman Djunas.

 

Protokol Tumbang Anoi 2019 bertaraf internasional, ditandatangani peserta dari Kerajaan Brunei Darussalam, Federasi Malaysia dan Republik Indonesia. Protokol Tumbang Anoi 2019 wilayah Indonesia, mengacu kepada protokol internasional, dengan mempertajam materi, dimana para penandatangannya hanya orang Dayak di wilayah Indonesia.

Dikatakan Dagut, pembahasan dan penentuan kalimat di dalam Protokol Tumbang Anoi 2019, betul-betul ilmiah, ada acuan hukum secara internasional dan nasional, sehingga terhindar dari tudingan Dayak ingin merdeka atau rasis.

“Sebagai penduduk pribumi, Suku Dayak berhak hidup secara berkeadilan, tetapi tetap mempertahankan identitas diri di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam,” ujar Dagut H Djunas.


Ditempat yang berbeda, Andi Wiyata Panglima Tumbak Adat Dayak, mengatakan bahwa Seminar International yang akan memunculkan kembali Kebenaran perjalanan sejarah yang selama ini tidak dikumandangkan bahkan sempat akan dihilangkan. Wacana inti dari kegiatan ini akan bersifat tahunan setelah terselenggaranya di tahun 2019 ini.

Salah satu catatan sejarah yang wajib diketahui generasi penerus bangsa akan terbangunnya NKRI dimasa perjanjian Suku Asli Tanah Borneo dengan berbagai pihak dijaman Penjajahan Kolonial.
"Kebenaran dan informasi akan catatan sejarah Dayak, semakin simpang siur dan dijadikan sebagai bentuk kepentingan oleh berbagai pihak" ujar Panglima Bungsu.

Andi Wiyata, Panglima Tumbak Dewan Adat Dayak, menegaskan kami akan menyampaikan jebenaran dengan bukti sejarah asli yang masih disimpan oleh Leluhur kami.

Indonesia Nusantara adalah negara yang mempunyai Adat, Budaya yang kompleks yang menjadikan kita negara yang ber Identitas di mata dunia. Negara Indonesia kaya raya yang selalu menjadi incaran mata dunia sejak dahulu sampai hari ini.
“Maka janganlah mengatasnamakan atau mengunakan Keyakinan dan Agama untuk menjadi dasar Perpecahan antara saudara. Itulah fenomena saat ini." pungkas Andi W.

Dari siapa dan suku apa kita dilahirkan itu Kuasa Sang Jubata. Mari kita kembali mendaulatkan siapa kita dengan darah warisan leluhur kita untuk tetap Bersatu membangun NKRI.

Sekedar diketahui, Panglima Tumbak, Andi Wiyata, Ketua Dewan Adat Dayak, Anjongan beserta rombongan dari Kalimantan Barat berangkat hari ini menuju Palangkaraya dengan titik kumpul di "G" Hotel yang berada di kota Pontianak.

EVELYN

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077