08 Januari 2019 | Dilihat: 197 Kali
PEMBANGUNAN KOREM DI NTT MINTA DIBATALKAN
noeh21
 

HiTvBerita.com - KUPANG | Demi menghindari konflik horizontal, Anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Pareira meminta Kodam IX/Udayana membatalkan rencana pembangunan Komando Resort Militer (Korem) di wilayah Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pangdam IX/Udayana diharapkan meninjau ulang pemilihan lokasi yang tengah menjadi sengketa antara dua suku di NTT. Pasalnya, tanah Suku Paumere masih bermasalah dan diperebutkan antara dua suku.

“Sebagai Anggota Dewan asal NTT saya meminta Pangdam membatalkan rencana tersebut demi menghindari konflik horizontal dan mengalihkan pembangunan Korem ke wilayah lain yang tidak bermasalah," ungkap Andreas saat pertemuan Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi I DPR RI dengan jajaran Kodam IX/Udayana Denpasar, Bali, Rabu (12/12/2018) lalu.

Tanah yang hendak dihibahkan kepada TNI itu diklaim sebagai tanah Suku Paumere, sehingga tak semudah itu warga suku memindahtangankan tanpa sepengetahuan warga suku yang lain, mosalaki (tetua adat), dan kepala suku. Tanah Suku Paumere diklaim seluas 6.000 hektar meliputi Desa Kerirea, Sanggarhorho, dan sebagian Tiwerea.

Andreas menjelaskan berdasarkan informasi yang ia peroleh dan himpun langsung dari masyarakat sekitar bahwa orang yang menyerahkan tanah itu yaitu Indra Hasan alias Mohamad Nasir sudah kalah di Mahkamah Agung. “Ini harus jadi pertimbangan. TNI diharapkan ikut membantu menyelesaikan kisruh tanah adat, bukan malah terlibat dan terkesan membela salah satu pihak yang berkonflik," pinta Andreas.

Usai memberikan pandangan, legislator PDI Perjuangan ini juga menyerahkan berkas kepada Kasdam IX/Udayana sebagai bukti-bukti yang terkait sengketa tanah Suku Paumere agar menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Senada dengan Andreas, Anggota Komisi I DPR RI Darizal Basir juga menyarankan kepada jajaran Kodam IX/Udayana agar membangun Korem di wilayah yang jelas status tanahnya. “Kalau ingin membangun Korem jangan sampai meminta tanah ke masyarakat tapi belilah tanah tersebut melalui uang negara untuk meminimalisir konflik," tandasnya.

Legislator Partai Demokrat ini bisa memahami kesulitan TNI dalam membangun pertahanan teritorial jika tidak didukung anggaran yang memadai untuk menyiapkan lahan. Sementara pola mendapatkan lahan dari hibah masyarakat maupun Pemda seringkali terkendala sengketa kepemilikannya.

Ia juga menyoroti keberhasilan program Pembinaan Teritorial (Binter) dilihat dari kondisi keamanan sebuah wilayah. "Tolak ukur Binter tidak ada kerusuhan, keributan dan konflik di masyarakat," ungkapnya.

Hal tersebut tentu menjadi kontradiktif dengan realitas di lapangan jika rencana pembangunan Korem justru memicu terjadinya konflik antar suku akibat sengketa tanah yang belum selesai, pungkasnya

OTHONE

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077